Menorehkan Luka – oleh Riza Aulia Akfiyani

Kau ibarat seekor karnivora Kapan saja terlihat mangsa yang getas Kau langsung bersiap siaga Melontarkan kata-kata yang pedas Apakah kau menikmatinya? Menorehkah luka dengan pisau cibiran Mencakar-cakar raga dengan kuku hinaan Mencabik-cabik jiwa dengan taring remehan Terkadang ingin aku bisa mendengarnya Apa yang ada di pikiranmu? Apa yang membuatmu tak menyukai semua? Sedang mereka, tak […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Permulaan – oleh Aftita Yuni

Buku-buku yang kalian habisi, Saking banyaknya hingga tak terhitung lagi Sajak puisi yang kalian lantunkan, Saking indah dan rumitnya hingga orang awam sulit mengerti Lingkar percakapan kalian, Saking luasnya hingga tak mampu diikuti nara Aku tak mampu mengimbangi itu Baru juga kumulai baca buku Telah lama kusukai sastra Tapi baru sekarang aku gandrung karnanya Yang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Keheningan Malam – oleh Ana Dian Diriyani

Malam ini terasa sunyi Hanya ada aku dan keheningan Langit tenang Dengan hiasan bintang berjejer Kupu ikut berhias Sayap nan indah Melebar dengan gagah Melewatiku dan kesunyian Memandang jauh Menembus dinding ketidakmungkinan Akan sebuah pengharapan Untuk perubahan masa depan Keheningan malam merengkuhku Memeluk lembut Angin ikut berbisik Cahaya masa depan menanti Angan menyapaku Melihat sebuah […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Sajak rindu – oleh Martha Fitrianto

angin pagi yang menemani saya berkeluh kesah saya titipkan sebungkus rindu yang terbalut jarak kepada abgin yang menemani saya tadi pagi berkeluh kesah saya ceritakan semua kisah kita, kisah kita kala bersama-sama naik sepedah sambil merancanang masa depan ,kisah kita kala bersama menatap rembulan kisah kita kala meminta titik air berhenti sungguh banyak kisah kita […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Kasihku setetes embun – oleh Darma Santi

Kasihku setetes embun Muncul setiap pagi tiada ketika siang Tapi tak pernah benar-benar hilang kasihku setetes embun dingin dan menyejukkan tapi tak pernah membeku layaknya es di kutub kasihku setetes embun diatas dedaunan memberi kekuatan pada jiwa jiwa yang kering melukis pelangi diantara monokrom Kasihku setetes embun – oleh Darma Santi Kediri
Baca puisi selengkapnya…

 

Aku Harus Bagaimana? – oleh Dwitra Hanifi

Aku Harus Bagaimana? Malam demi malam Hari demi hari Minggu demi minggu Terlewat seperti angin begitu saja Tanpa pengharapan berharga Kekosongan meraja rela Ada yang tertindas Ada yang ditindas Ada yang digilas Ada yang tergilas Oh..waktu Ada yang suka Ada yang duka Ada yang bahagia Ada yang kecewa Oh..keadaan Ada yang kerja keras Ada yang […]
Baca puisi selengkapnya…

 

Untukmu, Sumber dari segala inspirasiku – oleh Murni Oktarina

Mentari pagiku…. Gerimis baru saja mengukir basah di tanah Lalu sinarmu mengeringkan tanah nan resah Hingga tumbuh akar-akar yang tak mudah patah Senja jinggaku…. Pada langit kusenandungkan nada kerinduan Untukmu yang menemaniku dalam roda impian Dipermainkan sang waktu dengan segala keterbatasan Bintang malamku…. Aku masih menatap langit dengan mata terpejam Mengurai rumus-rumus sepi pada lembaran […]
Baca puisi selengkapnya…